Sabtu, 09 Mei 2009

…DAN KETIDAKADILAN PUN DI BUTUHKAN


Ketika pertama kali menginjakkan kaki di sebuah institusi yang bernama Pengadilan dua tahun yang lalu, di dalam benak saya terpampang secara besar-besar dan menyolok sebuah kata yang menjadi dambaan seluruh masyarakat yang hidup di persada bumi pertiwi ini, yaitu kata KEADILAN. Dan ketika pada akhirnya saya pun diterima menjadi salah seorang dari ribuan pelamar Calon Pegawai Negeri di lingkup Mahkamah Agung dan menjadi keluarga besar Mahkamah Agung RI, kata keadilan ini pun tidak pernah menjauh dari mindset otak saya. Bahkan telah terpatri di dalam bagian otak kanan saya bahwa kantor yang saya tempati dalam mencari nafkah ini, adalah tempat para pencari keadilan mendapatkan keadilan yang sejati. Yah begitulah, sehingga dengan hati yang ringan dan semangat yang meluap-luap sayapun melangkahkan kaki menapak kehidupan di sebuah kantor yang bernama Pengadilan Negeri.

Di hari yang lain sekitar setahun dari peristiwa diatas, masih dalam lingkungan kantor yang sama, saya mendapatkan secara pahit sebuah kosakata baru yang terasa pada saat itu masih janggal saya dengar. Karena secara sepintas kata ini terasa sangat kontradiktif dengan pikiran-pikiran dan doktrin yang tertanam dengan kuat di bagian otak kanan saya tadi. Bahkan kosakata ini malah bisa mengubah pola pikir yang telah terbangun dengan kuat itu. Kata yang sebenarnya merupakan sebuah kalimat itu adalah “ketidakadilan pun masih dibutuhkan”.

Hah,…menjadi seorang penikmat rangkaian kata yang indah, merupakan sebuah anugerah yang besar dari Sang Maha Indah, dan sayapun telah memulai memposisikan diri menjadi seorang penikmat itu. Namun ketika mendengar ‘kosakata yang sebenarnya merupakan kalimat’ tersebut diatas, saya menjadi terperangah, otakku mandeg dan yang terjadi kemudian adalah sebuah perang besar berkecamuk di dalam hati dan pikiranku. Ada apakah gerangan, sehingga kata ini harus muncul di tengah taburan indahnya rangkaian kata yang telah menyebabkan sebagian umat manusia di muka bumi ini terlena dalam rayuan dan bingkai kata yang khusyuk masyuk itu?

Dan, ketika Surya mulai terbit hari ini, dan mulai memperlihatkan terangnya keseluruh penjuru bumi yang mendapatkan jatah siangnya, di tempat yang masih sama namun dalam posisi yang berbeda, posisi ketika saya tidak terjebak antara menjadi sebuah objek atau sebuah subjek namun hanya menjadi seorang pengamat, mata saya mulai dibelalakkan dan pikiran saya mulai dicerahkan akan arti dari sebuah “kosakata yang sebenarnya adalah sebuah kalimat” tersebut. Bahwa ketidakadilan masih dibutuhkan di dalam interaksi sosial masyarakat kita, adalah merupakan refleksi dari ketidakseimbangan antara sebuah keputusan dengan realitas yang sebenarnya terjadi. Dan bahwa Pemerintah sebagai penentu sebuah keputusan, belum mampu menciptakan keadilan yang sebenarnya kepada seluruh warganya disebabkan keanekaragaman kepentingan dari warganya itu sendiri, adalah sebuah kewajaran. Hal inilah yang menyadarkan saya bahwa “ketidakadilan itu masih dibutuhkan” memang sesuatu yang masih wajar terjadi di sebuah Negara yang masih berproses menuju sebuah kestabilan. Sang Pemerintah tentu tidak akan mampu melihat isi pikiran dari seluruh warganya. Sehingga dalam pengambilan keputusan, dibutuhkan keputusan yang dapat memberi rasa keadilan kepada sebagian besar warganya dan tentu saja “mengorbankan” perasaan dari sebagian kecil warganya yang lain. Dan kepada warga yang dikorbankan inilah berlaku sebuah kata yang sebenarnya merupakan kalimat tersebut.

***

Kembali saya mendapatkan sebuah pelajaran hari ini, bahwa hidup ini penuh dengan warna, bukan hanya diisi dengan warna hitam atau putih saja. Begitupun dengan isi otak kanan saya tadi. Kini tidak hanya terisi dengan pola-pola baku yang diajarkan dari para guru sejak SD hingga tingkat pendidikan paling tinggi sekalipun. Namun kini telah mulai berproses menelaah ilmu dari pengalaman hidup yang ternyata sangat tidak senyaman dengan goresan tinta diatas buku interaksi sosial yang selama ini merecoki otak kanan saya itu. Dan satu pelajaran lagi, bahwa dalam mencapai keinginan yang ada dalam diri kita, akan terasa indah ketika harus menemui jalan yang berliku dan sangat panjang dan pada akhirnya keinginan tersebut dapat tercapai, walaupun harus bertemu dengan sebuah kata yang ternyata dapat memerdekakan jiwa dan pikiran baku di otak saya yang berbunyi “…dan ketidakadilanpun di butuhkan”

Ditulis oleh

jiwa yang egois

06 November 2008

Di malam yang basah…!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kasi komentar dong