Sabtu, 09 Mei 2009

JANJI!

Di musim kampanye seperti beberapa bulan terakhir hingga beberapa bulan yang akan datang, kita seakan terbius dengan berbagai maneuver-manuver politik dari para sang maestro politik. Para politikus ini seakan tak ada habisnya menelurkan berbagai jurus perpolitikan di ranah angan-angan para masyarakatnya. Seakan berpacu dengan waktu, mereka secara berjamaah terus menerus merongrong daya pikir para pemilihnya dengan berbagai rayuan maut yang dibungkus dengan baju yang bernama “janji”. Atas nama rakyat yang menjadi jargon mereka, dengan leluasa berbagai janji pun bertebaran dari mulut-mulut lihainya. Mulai dari kata GRATIS sampai dengan kata BERSUBSIDI pun tak lepas dari bagian yang bernama janji itu. Entahlah, kita tidak tahu akan kemana janji itu mendarat kelak. Apakah hanya sekedar janji belaka atau pada akhirnya akan bermuara pada kenyataan yang seindah janji itu. Jika janji yang telah terlanjur terucap itu terjadi hanyalah pada tataran wacana, maka hal ini merupakan alamat buruk bagi diri sang maestro. Kepercayaan dari para pemilihnya akan hilang, kharismanya akan jatuh dan yang paling hina ketika Allah menagih janjinya itu kelak di hari akhirat.
Ah…kita tidak perlu mengkaji keburukan yang terjadi dengan si pemberi janji tersebut. Namun marilah kita mencoba melihat realitas yang ditimbulkan oleh sang Maestro tadi, terkadang kita lupa akan nasib dari manusia-manusia lugu yang telah termakan oleh bujuk rayu dari kekuatan janji itu. Bagaimana tidak, ketika mereka telah memimpikan akan mendapat anugerah dari isi sebuah perjanjian, dan pengharapan telah melambung ke atas langit yang ketujuh disertai dengan berbagai do’a yang terucap dalam setiap sujud-sujud mereka di sepertiga malamnya yang khidmat penuh dengan harapan-harapan dan rencana-rencana yang telah tersusun rapi dalam benak mereka, namun tiba-tiba semuanya itu menjadi musnah dan hilang tanpa bekas. Kita terkadang lupa berfikir nasib orang yang dijanjikan tersebut. Mereka bagaikan melihat sebuah telaga air di kejauhan yang ternyata tak lebih dari fatamorgana dunia. Maka kita bisa mafhum, bahwa di Negara kita yang terlalu luas dan terlalu besar ini terdapat jiwa-jiwa yang terpenjara oleh anak negerinya sendiri. Terpenjara oleh kenikmatan – kenikmatan semu dari sebuah janji yang keluar dari bibir sang maestro. Yang pada akhirnya malah akan membuat kekecewaan yang mendalam dan menggores jiwa kemanusiaannya. Dan menimbulkan sikap skeptis terhadap para pemimpinnya.
Fenomena pengingkaran janji inipun terjadi di sekeliling kita, di lingkungan perumahan kita, lingkungan kantor kita bahkan di lingkungan kelurga kita sekalipun. Sehingga sebagai seorang hamba dari Yang Maha Kuasa yang hidup di masa yang penuh sandiwara ini, seseorang yang berperan sebagai seorang Maestro hendaklah berhati-hati dalam menjaga lidah dari sebuah “kekeseloan”dalam pengumbaran sebuah janji. Dan ketika janji tersebut telah terlanjur keluar dari bibir yang telah diciptakan dengan sempurna oleh Yang Maha Pencipta itu, maka ketika telah tiba saatnya janji tersebut harus terpenuhi, saat itulah seluruh anggota badan kita berusaha dengan segala daya bahkan dengan jiwa sekalipun untuk memenuhi janji tersebut. Karena ketika mengingkarinya, maka bukan hanya dirinyalah yang rusak namun malah akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar di diri orang yang telah terbujuk oleh JANJInya.
Ditulis oleh jiwa yang kerdil
29 Oktober 2008
Dimalam yang sepi…!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kasi komentar dong